Arti dan Ketentuan Persahabatan yang disyaria’tkan Rasulullah Muhammad SAW


  • Rasulullah saw bersabda :” Seorang sahabat adalah yang membantumu dalam memperbaiki agamamu”
  • Rasulullah bersabda : ” Tiada dua orang yang berteman melainkan salah satu yang lebih besar pahalanya dan lebih dicintai Allah adalah yang paling berlemah lembut terhadap temanya”
  • Rasululah bersabda : “Berlakulah lemah lembut terhadap orang lain, niscaya engkau diperlakukan dengan lemah lembut, sesungguhnya, kelemah lembutan adalah pangkal dari hikmah kebijaksanaan”
  • Ali bin Abi Thalib ra berkata : Seorang teman disebut rafiq sebab ia berlemah lembut terhadapmu dalam kebaikan agamamu, maka barang siapa membantumu untuk memperbaiki agamamu, ia adalah rafiq (Kawan, sahabat).
  • Cucu Rasulullah Ali Zaenal Abidin ra berkata : ” Dan Hak saudara seiman adalah engkau melindungi, berlaku rahmat dan berlemah lembut terhadap mereka, memperbaiki mereka berterima kasih kepada yang berbuat baik dari mereka dan mencegah menyakiti mereka. Dan hak orang yang meminta nasehat ialah hendaknya engkau menyampaikan kepadanya nasehat, nasehatilah ia dengan penuh kemurahan hati dan kelemah lembutan.
  • Cucu Rasulullah saw Ja’far ash Shadiq ra berkata : “Siapa yang marah kepadamu tiga hari, tetapi ia tidak berkata buruk tentang dirimu (dengan menjelekanmu) ambilah ia sebagai sahabat sejatimu”
  • Rasulullah saw bersabda : “Uji sahabatmu dengan tiga hal, pada waktu marah, perhatikan apa marahnya tidak mengeluarkanya dari kebenaran dan kebatilan. Pada urusan keuangan dan pada perjalanan bersamanya. Jangan kamu lihat lama rukuknya, bilangan sholat mereka atau puasa mereka, atau haji mereka atau perbuatan baik mereka atau tahajud mereka, jika hal itu telah menjadi kebiasaan. apabila dia tidak melakukan yang demikian maka dia merasa gelisah, tetapi pandanglah dari kejujuranya ketika berbicara dan pandanglah bagaimana ia melaksanakan amanahnya.

Untuk memastikan bahwa kita sebagai sahabat mereka ata sebaliknya mereka rela menjadi sahabat kita, masing-masing harus siap diuji dan teruji, bahwa kita atau pun mereka layak sebagai sahabat yang memegang amanah Allah SWT dapat teruji dari penjabaran Al hadits diatas yakni:

Uji sahabatmu dengan tiga hal yakni:

  1. pada waktu marah, perhatikan apa marahnya tidak mengeluarkanya dari kebenaran dan kebatilan.
  2. Pada urusan keuangan
  3. Pada perjalanan bersamanya. Jangan kamu lihat lama rukuknya, bilangan sholat mereka atau puasa mereka, atau haji mereka atau perbuatan baik mereka atau tahajud mereka, jika hal itu telah menjadi kebiasaan. apabila dia tidak melakukan yang demikian maka dia merasa gelisah, tetapi pandanglah dari kejujuranya ketika berbicara dan pandanglah bagaimana ia melaksanakan amanahnya.

Itulah barometernya bagaimana kita dapat menjadi sahabat bagi mereka dan mereka pun menjadi sahabat bagi kita minimal memenuhi persyaratan utama sebagaimana digariskan dalam QS 103: Al Asr: 3, semoga kita bersama dapat mengaflikasikannya dalam kehidupan kita dengan dilandasi hati yang suci. Wallahu A’lam Bilshawaf….

by Masdar; dari Ta’lim Al Baabusalaam: Khamsatun, 1 Jumadall Akhir 1334 H, dan berbagai sumber

Jika ada tambahan content dalam bentuk apapun yang bertentangan dengan tema pembahasan yang admin maksudkan, itu semuanya bukan postingan admin mohon maklum adanya

Tinggalkan Pesan Anda di sini.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: