Sebagian Kecil Dari Ciri -Ciri Kehancuran Peradaban Manusia di Akhir Zaman


Sungguh ironis…..

Sangat banyak terjadi penyimpangan terjadi di mana-mana…kekufuran, keingkaran, kemunafikan, kemusyrikan sebagai wujud dari kebokbrokan peradaban manusia yang telah mengingkari “Addinul Islam” sehingga  semakin merajalela, sebagai pertanda akhir zaman telah tiba.
Setiap ada penyimpangan maka akan terlahirlah kemungkaran, kekufuran, keingkaran, kemunafikan, kemusyrikan….. Jangankan lahir semuanya, terlahir salah satu saja tinggal tunggu kehancuran. Sungguh Alloh Maha Bijaksana, Ia turunkan teguran secara bertahap pertama tama teguran halus, masih menyimpang turunkan teguran agak keras, masih membandel.. dengan peringatan. Masih membandel sepantasnya mereka mendapat adzab dan siksa sebagai ladang dari semua amal perbuatannya…. Subhanalloh
Sebagai bahan Instropeksi dan Muhasabah, Saat ini terkadang hati nurani kita tertutup rapat-rapat dengan egoisme pribadi yang terbelenggu atas penafsiran hukum-hukum Alloh Swt tentang Hukum Addinul Islam yang telah disesuaikan dengan kepentingannya sehingga yang seharusnya bersifat absolut karena rekayasa tafsirnya hukum Alloh Swt menjadi samar, ini tanfa kecuali akan menimpa semua insani termasuk dari golongan Umaro, U’lama, dan Nahdiyiin yang lemah imannya  diakhir Zaman nanti ini akan terjadi, wujudnya sebagai “Qiamat Shogra titik awal kehancuran Peradaban manusia”.
Banyak sekali pelanggaran-pelanggaran saat ini yang sudah tidak dianggap lagi sebagai penyimpangan dan pelanggaran, yang mungkin sudah kita lakukan dalam kehidupan kita, sebab kita merasa sudah biasa. Mulai  insan manusia  kalangan atas “Umaro” peminpin, kalangan “Ulama yang Ulama-ulamaan”, apalagi dalam kalangan kita yang sangat awam dengan ” I’lmu “, sudah pasti banyak melakukan penyimpangan dan pelanggaran hidup dari aturan sang Illahi, tetapi tidak bagi para Umaro, U’lama, dan Nahdiyiin yang dikakasihi Alloh Swt, karena mereka menjadi hamba pilihan yang ta’at menjalankan semua aturan Addinul Islam dan menjauhi semua larangan yang tidak diperbolehkan dalam tuntunan Islami. Namun di akhir Zaman nanti jumlah mereka sangat sedikit karena diantara mereka tidak mampu mempertahankan keislaman, keimanan dan ketauhidan mereka dalam Addinul Islam. Dengan Tahta, Harta dan Wanita mereka gadaikan semuanya. Hanya Kufur, Musyrik dan Murtad yang mereka raih.. Nau’dzubillahi min dzalik.
Sebagai Umaro / “Penguasa” 
Sebagai U’mara atau Penguasa / Penguasa Khususnya yang memegang teguh ajaran Illahi Addinul Islam mereka pasti menjadi pengayom rakyat dan rakyat pun pasti mencintai dan menteladaninya akan tetapi kalau mereka jauh dari tuntunan nilai Illahiah, mereka adalah hanya Umara-umara-an (bukan Penguasa sebenarnya tetapi mereka adalah pemimpin / penguasa yang Dholim)
Sebagai Umaro-umaruan / “Penguasa” seharusnya menjadi pengayom rakyatnya, menjalankan amanat rakyatnya, justru bertindak sebaliknya, Penindasan terjadi dimana-mana, penggusuran hak-hak rakyat pun terjadi dimana-mana, Penarikan pajak secara besar-besaran, namun apa yang terjadi saat ini?….Kebanyakan hanya untuk memperkaya diri sendiri. Karena mereka sebenarnya tidak memerlukan rakyatnya, yang mereka perlukan hanyalah dukungannya dikala mereka belum menjadi apa-apa. Setelah mereka sukses ironisnya di akhir zaman ini banyak yang diangkat rakyatnya malah memperbudak Rakyatnya.
  • Wahai para Umaro-umaroan dan diriku ini, sudah saatnya dan selayaknya menyadari apa yang telah diperbuat saat ini bagaikan seorang anak yang tidak tahu berbalas budi terhadap orang tuanya.
  • Wahai para “Umaro-umaroan” dan diriku ini, masih ingatkah kalian tentang tafsir Para Ulama “Rakyat akan berperan sebagai Orang tua yang selalu tertindas, dan Penguasa akan bertindak sebagai seorang anak yang berprilaku sebagai majikan terhadap orangtuanya… Prilaku ini diakhir zaman nanti akan terjadi bahwa sanya para peminpin akan berprilaku sebagai seorang anak yang akan menempatkan dirinya sebagai majikan para orangtuanya… A’u’dzubillahi min dzalik..
  • Wahai para penguasa, dan diriku ini,  masih memiliki hati nuranikah, mau sampai kapan drama keserakahan ini diperjuangkan?, dibudidayakan?, dipertahankan? Walau dengan kepandaian kalian saat ini Kebathilan bagi kami disulap jadi kebenaran kalian, Yang bukan haq kalian disulap jadi halal sebagai haq kalian, Ataukah hal ini akan terus berlangsung selama ini. Ketidak-adilah bagi kami disulap jadi keadilan kalian. “ Masih ingatkah pernyataan bahwa: Kejahatan, kemunkaran, kebathilan yang terorganisir rapih akan mengalahkan individu-individu pejuang kebenaran, keadilan, yang ia lakukan tanfa pengorganisasian”. Ini artinya peran Umaro sangar diperlukan untuk menegakannya. Namun faktanya sekarang Sungguh mengerikan, karena semuanya sudah dipolitisasi demi kepentingannya!
Sekarang sudah terjadi jangan coba-coba bertanya… Ini Kenapa terjadi ?  Ini salah siapa? Ini salah kita semua, jangan tutup mata, tutup telinga, apalagi hati dan fakta.  Coba lihat sekeliling keluarga kita Abi, Umi, Ana, termasuk kakak dan adik kita, sudahkan berbuat adil diantara mereka? Sudahkan berbakti sebagai anak sholeh? Juga sebaliknya para Abuu dan Umuu menjadi tauladankah bagi anak-anaknya? Sudahkan hidup di Jalan-Nya? Sudahkan beramal shaleh dalam tuntunan addin-Nya, Alloh Swt?  Apalagi menghujat, menggunjing dan memfitnah dalam Islam itu sangat tidak dibenarkan, sebab Islam adalah “Rahmatan Lila’lamiin” Islam sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam  Inilah sebagai makna peringatan yang seharusnya. Karenanya secepatnya kita memohon penganpunan bersama-sama kepada-Nya Alloh Swt.
Sebagai U’lama (Berilmu khususnya dibidang Agama )
Sebagai U’lama atau Orang yang berilmu yang sebenarnya sesuai tuntunan Addinul Islam pasti mereka memegang teguh ajaran Illahi Addinul Islam mereka menjadi penerang,…. rakyat pasti akan mengamalkan ilmunya demi kemaslahatan umat, bukan untuk kepentingan diri, akan tetapi untuk kehidupan diakhir Zaman hanya sedikit yang mampu mmempertahankan pancaran Illahi dalam kehidupannya.

Mereka (para u’lama-ulamaan ini di akhir zaman nanti atau mungkin sekarang sudah) lebih cenderung berpose sebagai U’tad-ustadan, sebagai Da’i-da’i-an dengan makna dan isi pesannya benar sesuai dengan ajaran Islami, namun yang sesungguhnya mereka terlena dengan popularitas. Mereka berda’wah
terkadang sudah tidak mengindahkan lagi Ayat suci Al-Quran “Istaro bi ayatillah”. Mereka manage aktifitasnya dengan sedemikian sistematisnya. Mereka libatkan Manager profesional sebagai Agen-nya?
Astagfirulloh al adhim… Adakalanya mereka akan mengambil keuntungan dari ayat-ayat Alloh Swt, mereka luba akan peringatan Alloh Swt “Istaro bi ayatillah ….dst” Mereka salah gunakan demi segenggam harta dengan penyalah gunaan ” Kefakiran mendekati kekufuran”, dengan berdalih demikian sudah pasti mereka akan berlomba untuk mensejahterakan hidupnya dengan sebuat tarif berlogo “Nego” mungkin termasuk kita juga demikian….  Astaghfirulloh al a’dhim…..
Wahai saudaraku…
  • Sudahkah kita mengamati lingkungan kita?
  • Sudah kita menghadiri acara da’wah atau tabligh yang gagal karena Penda’wahnya tidak datang?
  • Atau menghadiri acara serupa yang penda’wahnya diganti orang lain?
  • Ataukah jangan-jangan diri kita sendiri yang telah menggagalkan berda’wah ditempat yang satu dan memilihnya untuk berda’wah di tempat lain?…..

Sebagai contoh berda’wah tentang kewajiban seseorang tentang hartanya, sebagai penda’wah seharusnya  berkewajiban sebagai penerang jalan yang lurus di jalan Alloh Swt bagi mereka pemilik harta dengan menafkahkannya di jalan Alloh Swt dalam zakat, infak, shodakah supaya tepat sasaran kepada yang berhak atas zakat, infak, shodakah yang dikeluarkan, bukan kita yang bertindak sebagai media umat untuk penerima atas zakat, infak, shodakahnya umat. Sementara mungkin sebagai penda’wah tidak demikian adanya, mungkin hanya pandai menghimbau, menerangi umat, sementara diri kita sendiri terlupakan, celakanya kalau memang tidak berniat zakat, infak, shodakah.

Celakalah jika beranggapan:

  • Saya kan telah berjuang dan memperjuangkan Agama Alloh Swt “Addinul Islam” toh pasti umat telah mengira amalan saya sudah banyak.
  • Selain itu kan saya ga sempat bekerja karena sibuk berda’wah, jadi wajarlah jika umat yang menafkahi perjuangan “fi sabilillah” saya ini.
  • Apa yang mau saya zakatkan?, saya infakkan?, dan saya shodakahkan?, kan shodakoh saya sudah sangat dari cukup dengan keberhasilan saya dalam membina Umat. Kan umat yang banyak telah berzakat, berinfak, dan bershodakah berarti saya sudah berzakat, berinfak, dan bershodakah melalui mereka. Kan mereka dapat beramal demikian itu karena da’wah saya….Astaghfirulloh al a’dhim…..

Ini hanya sebagian kecil penyimpangan dari orang-orang yang nota bene beri’lmu apalagi dari prilaku kita, amalan kita, ucapan kita, keilmuan addin kita yang tentunya jauh rendah  dari ilmu mereka yang dianggap Ulama. Jika ini benar-benar terjadi sungguh rusaklah umat ini…. Nau’dzubillahi min dzalik stuma nau’dzubillah. Inilah yang menyesatkan diri dan umat. Memang benar “Inna maa a’maluu bi niat…..” baik buruknya amalan seseorang (dari amalan yang baik menurut Alloh Swt), itu tergantung niatnya, apalagi berniat mengamalkan perbuatan dosa, dosanya pasti berlipat ganda… Nau’dzubillahi min dzalik.

Sesungguhnya para “Ulama” adalah Pewaris para ambiyai,….. shahabat, dan Rasululloh Saw. yang bertugas menjaga keimanan dan keislaman di akhir Zaman ini sehingga terhindar dari kekufuran, keingkaran, kemunafikan, dan kemusyrikan yang akan mendatangkan adzab (yang sangat pedih). bunyinya kurang lebih seperti ini (Mohon koreksinya) Sekiranya di muka bumi ini masih ada hambaku barang seorang yang bersyujud, bertahmid, bertasbih dan bertakbir karena-Ku niscaya Aku tidak akan menurunkan adzab terhadap suatu kaum mereka yang telah berbuat ingkar kepada-Ku.”
Ini cukup jelas peranan pemuka Addinul Islam, khususnya U’lama dan hamba Alloh Swt yang pandai  bersyujud, bertahmid, bertasbih dan bertakbir karena Alloh Swt., merekalah sebagai pelindung umat durhaka dari Adzab Alloh Swt atas imbalan kemunkaran kekufuran, kemunafikan dan kemusyrikannya, Subhanalloh….
Sebagai Nahdiyiin (Masyarakat Islami)
Sebagai Nahdiyiin (Masyarakat Islami)sudah barang tentu landasan kehidupannya akan selalu sejalan dengan para  U’lama dan Umara yang sebenarnya yakni sesuai tuntunan Addinul Islam pasti mereka hidup dalam pancaran indahnya “Rahmatan Lil A’lamiin” akan tetapi untuk kehidupan diakhir Zaman hanya sedikit yang mampu mmempertahankan pancaran Illahi dalam kehidupannya.

Orang yang hanya mengaku sebagai Nahdiyiin, (nanti mungkin sekarang ini), mereka tidak lagi mengenal mana yang haq dan mana yang Bathil. Mereka tidak dapat lagi menbedakan keduanya.  Batas halal atau tidak, aurat-dan shahwat, hak dan kewajiaban anak terhadap kedua orang tuanya-sebaliknya,  dan masih banyak lagi penyimpangan yang terjadi.

Sungguh ironis!

  • Dikalangan tua, setengah tua bagi yang menyendiri, yang beristri, yang bersuami, yang janda dan yang duda, sama saja, orang-orang ini tidak lagi mengenal ini istri siapa, ini suami siapa, ini anak siapa, (dari pertukaran pasangan diantara mereka, yang mereka kenal hanyalah shahwatmu dan shawatku berhak kita nikmati. Hukum “Razam Illahi mereka ingkari” Tidak sedikit daerah lokalisasi-lokalisasi menjamur dimana-mana, susah diberantas apalagi dimusnahkan, karena sudah menginfirasi duniawi. Prostitusi menjadi legalisasi… Astaghfirulloh al adzim…
  • Dikalangan remaja dewasa, dulu baginya harga diri insani penuh nilai-nilai Illahi, untuk dinikahkan saja malu-malu ia terima, sekarang promosi diri kapan dikawini walau belum resmi… bunting diluar nikah baginya sebuah infestasi yang penuh nilai bergensi… Astaghfirulloh al adzim…
  • Anak anak remaja sekolahan yang seharusnya belajar tidak lagi memperdulikan dirinya yang penting happy. Para guru tadinya peduli atas mereka, namun akhirnya hilanglah sudah kepeduliannya, yang pasti turut menikmati kebebas yang disajikan siswa-siswinya walau dengan sembunyi-sembunyi sebagai terapihidup sepi menyendiri, karena jauh dari kasih sayang orang tuan yang sedang gila harta duniawi dan ambisi. Sedemikian bebasnya  yang terjadi diakhiri Prostitusi dan tak jarang yang bunuh diri…. Astaghfirulloh al adzim…
  • Kalangan suami istri resmi Halal dan Haq, tidak jarang terjebak asumsi peribadi yang tidak terpuji bahkan sampai berbuat keji. Membunuh sang jabang bayi kerap terjadi, dengan berdalih suami belum mapan, belum siap membiayai, akhirnya Prostitusi lagi… Astaghfirulloh al adzim…
  • Masyarakat penguasa teknologi hidup menyendiri, karena tidak memerlukan teman lagi. Putuslah silaturahmi….  Astaghfirulloh al adzim…
  • Masya Alloh, Banyaknya ibu-ibu yang enggan menyusui anak-anaknya, mereka merelakan anak-anaknya terlantar atas asinya. Apa yang terjadi darah dagingnya menjadi Insan Binti hewani, karena mereka mendapat kasih sayang dari air susunya Bin Hewani Sapi, Binti Hewani Sapi, atau mungkin binti atau bin hewan yang lainnya….. Maka tidak heran dan jangan salahkan siapa-siapa jika mereka setelah dewasa berprilaku hewani… pergaulan bebas…, gonta-ganti teman kencan…, dan mungkin perbuatan nista lainnya….. Astaghfirulloh al adzim…
  • Yang tak kalah mengerikan, nanti banyak ibu-ibu yang melahirkan tuannya, bocah cilik yang dikandung dan dilahirkannya tiba-tiba setelah dewasa ia akan menjadikan ibunya sebagai pembantu hidupnya… Ia disuruh mencuci, memasak, menjaga anak, beres-beres kebun, dan lain sebagainya Pokoknya Ia disuruh ini dan itu…., Ia diperlakukan tidak adil karena mereka anggap sudah tidak berarti baginya. Daripada mengurus Orang tuanya sendiri, mereka lebih malah menilih panti jompo untuk menitipkan mereka orang tuanya…Itu ketika masih hidup. Lain halnya menjelang kematiannya itu pun jika ia tahu, sebelum sakaratul maut menghampiri Orangtuanya , para anak-anaknya tanpa sadar ia rasa ini benar ” Wahai saudaraku ini saatnya untuk kita berdoa untuk merelakan kepergian orang tua kita, semoga meninggal dengan tenang… padahal kondisi orang tuanya belum sampai saatnya untuk meninggal, paling tidak ia hanya tak sadarkan diri, karena menahan sakit yang dideritanya. Padahal tidak mustahil dengan kehendaknya ia pasti masih bisa hidup dan sehat kembali…. sungguh jahat kita ini terhadapnya. Bukannya kita mendo’akannya cepat sembuh, malah merelakannya untuk mati. Wahai saudaraku… ingatlah kita pada sebuah kisah seorang anak yang sakit parah yang secara medis dia sudah tidak mungkin dapat sembuh lagi. Dalam kondisi demikian terlontarlah sebuah do’a dari Orang tua sang anak yang sungguh menyayat hati, bila kita cernati dengan hati nurani. Betapa tulusnya kasih sayang Orang tua terhadap anak-anaknya.  “Ya Robbii…. hamba memohon kepada-Mu sekiranya Nyawa hamba dapat menggantikan  kesembuhan dan dari kematian anak hamba, maka hamba ikhlas….hamba ridho… menggantikan kematian anak hamba…. asalkan anak hamba dapat sehat seperti sedia kala…..” Wahai saudaraku kasih sayang orang tua kita bagaikan kasih sepanjang jalan…tanpa ujung dan tanpa akhir, sementara kasih sayang kita hanya sepenggal, itu pun ukuran bagi mereka yang berbakti kepada kedua orang tuanya, Untuk yang tidak………………… Astaghfirulloh al adzim…  Bagaimana dengan perlakuan kita terhadap beliau orang tua kita? Jangan-jangan kita yang seperti itu! Ini dalam sekala kecil, keluarga kita … Bagaimana pada sekala besar? Para U’lama mentafsirkan posisi Ibu sebagai symbol Rakyat dan sang anak sebagai symbol pemimpinnya. Diakhir jaman banyak pemimpin yang diangkat dan dilahirkan oleh rakyatnya malah memperbudak rakyatnya. Mari kita renungkan bersama jangan-jangan saat ini telah terjadi!     Nau’dzubillahi min dzalik.
  • Yang lainya, adanya goncangan kejiwaan manusia yang sangat dasyat. Mereka pada mabuk dalam ambisi dan egoisme duniawi yang menghilangkan nalar dan akal sehatnya. Mereka tidak sadar siapa dirinya, Mereka tidak dapat lagi membedakan mana yang haq dan yang bathil, Mereka tidak dapat membedakan mana santri mana Kyiai, Mana umi mana U’lama, mana rakyat mana pejabat, mana yang sholeh mana yang toleh, semua wong pada gendeng sakabeh…  Mereka hilang akal sehatnya,….  Karenanya kebenaran, keadilan dan yang haq semuanya samar bahkan menghilang karena tatanan kehidupan yang dipenuhi nilai-nilai Illahi mereka telah langgar semuanya… Mereka singkirkan jauh-jauh dari kehidupannya….. kalau sudah demikian sangat layak dengan Ke Maha adilan dan Maha Bijaksanaan Sang Ilahi…tidak mustahil jika adzab kan menghampiri sebagai peringatan atas dosa dan keingkaran umat…. Nau’dzubillahi min dzalik.
Nah begitulah uraian tentang kondisi  dari tiga komponen kehidupan menjelang akhir Zaman yang ditandai dengan sikap penyimpangan dan kebokbrokan moralitas umat manusia atas kekufuran, keingkaran, kemunafikan, dan kemusyrikan yang semakin merajalela mewarnai kehidupan umat Manusia di dunia yang fana ini Sementara ciri-ciri yang lainnya belum sempat diuraikan pada halaman ini, Semoga..mungkin di halaman lain.
Mohon kepada Umaro, Ulama dan Nahddyin yang sebenarnya sekarang ini (ini hanya gambaran mereka yang hanya mengaku-ngaku sebagai Umaro, Ulama dan Nahddyin tentunya di masa akhir Zaman), maaf juga jika ada salah makna dan tulis ini semata kesalahan penulis, karenanya bagi Para Ustad-Ustadah serta Para U’lama yang sempat mengakses dan membaca tulisan ini Mohon maaf dan sudah barang tentu tulisan ini banyak khilafnya, untuk itu terimakasih atas koreksinya, demi kemaslahatan Umat kami sebagai penulis, sangat menanti…
Walaupun demikian semoga tulisan ini bermanfaat bagi kemaslahatan umat…Amiin
Wassalaam
Masdar


Sebagai bahan Muhasabah lainnya dapat diklik pada tautan dibawah ini

http://galeriafasyaartstudio.blogspot.com/2012/03/ciri-ciri-kehidupan-di-akhir-zaman.html

https://bizisartstudio.wordpress.com/my-site-illustration/realigi/realigi-2/

Tinggalkan Pesan Anda di sini.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: