Blue in the Green


Blue in the Green

Hasil Wawancara

Lukisan karya: Elaine Nathania

SMP Bina Bakti

            Hi🙂 Saya Elaine, murid dari sekolah menengah pertama Kristen 1 Bina Bakti. Saya mengerjakan ini untuk tugas seni lukis saya . dan saya menyadari bwaha lukisan yang saya buat belum terlalu bagus karena ini pertama kalinya saya melukis di atas kanvas.

Bahan yang saya pakai tidak banyak, hanya kuas ( ukuran 2,3,5, dan 12) , pallet , terpentin / minyak , kanvas , dan cat minyak. Di lukisan ini, saya paling banyak menghabiskan cat berwarna hijau. Karena itu saya menamai lukisan ini “Blue in the Green” yang maksudnya adalah , ketenangan sungai bewarna biru di tengah dedaunan dan pepohonan yang hijau.

Di lukisan ini, saya menggunakan teknik pewarnaan timbul. Yaitu teknik yang mencodetkan kuas dan cat ke lukisan, tanpa merapikan/ meratakan cat itu. walaupun saya menuliskan memakai 4 jelis kuas, sebenarnya saya hanya menggunakan kuas nomor 5 untuk menyelesaikan lukisan ini.

Pada awal saya diberitahu guru seni lukis saya bahwa saya akan melukis di kanvas, saya merasa excited namun juga rasa sedikit tidak percaya diri. Saya adalah tipe orang yang cukup perfeksionis, saya sangat ingin apa yang saya lakukan mendekati sempurna dan saya ingin mendapat nilai maksimal. Karena itu, ketika saya mulai melukis, saya terus berkata “yaampun. Ini kalo salah gimana? Ini takut salah! Nanti warnanya gimana?” . Dan tak heran bahwa sebelum di warna, di kanvas ini memiliki banyak bekas hapusan -.-

Karena saya senang menggambar, saya merasa senang saat membuat lukisan ini. Walaupun ada dukanya juga, karena saat saya mewarnai, tangan saya jadi sangat kotor karena terkena cat, dan juga pegal karena ber jam jam terus memegang kuas.

Namun, rasa bangga saat lukisan ini selesai membuat saya puas dan melupakan duka yang saya rasakan saat pembuatan lukisan.

Rasa cape dan ngantuk juga terasa saat melukis. Karena saya melukis dalam waktu berjam-jam, saya pun lama lama merasa jenuh. Tapi, saya pun terus bertahan hingga lukisan ini selesai. Saya tak sabar untuk melihat karya kanvas yang saya buat untuk pertama kalinya.

Oh iya, saya pun pada saat awal membuat, saya bukan berencana untuk membuat lukisan ini. pada saat awal, saya ingin membuat lukisan lain. Tapi, melihat tenggat waktu, saya pun merubah ide saya dan memilih lukisan yang bisa lebih cepat untuk diselesaikan.

Seniman yang saya idolakan ada banyak, tapi saya paling menyukai lukisan lukisan karya Leonid Afremov . Ini adalah salah satu karya lukisannya. Lukisan yang bagus bukan ? B)

                        Seniman kedua yang saya suka adalah Leonardo da’ Vinci. Beliaulah yang melukis salah satu karya agung di dunia, yaitu Monalisa.

 

            Bila lukisan saya dibandingkan dengan lukisan mereka berdua, lukisan saya masih sangat dibawah. ( tentu saja ) Mereka sudah professional, dan memang pekerjaan mereka adalah pelukis. Sedangkan saya, saya masih amatir dan tidak terlalu menyukai melukis di atas kanvas.

Walaupun saya senang menggambar, melukis di atas kanvas bukanlah keahlian saya. Saya lebih menyukai menggambar di atas kertas atau mewarnai dengan komputer –adobe photoshop-🙂

Saran dan anjuran saya, bila anda sekalian ingin mencoba melukis. Tetap sabar, jangan pantang menyerah, dan cobalah dulu sebelum berkata tidak bisa. Terus berpikir positif dan jangan negative thinking !

Karena melukis bukanlah hal yang mudah, dan melukis sangat melatih kesabaran, jadi sebaiknya dilakukan saat mood dan keadaan anda dalam kondisi baik.

Saya pernah mencoba melukis dalam mood yang sedang buruk dan anda tahu hasilnya bagaimana ? hancur. Tidak bagus. Dan benar benar membuang waktu. Karena itu, jagalah kondisi pikiran dan perasaan anda saat anda ingin melukis.

Lalu, percaya dirilah ! jangan terus berkata “saya pasti tidak bisa” dan akhirnya anda malah men”jiplak” karya orang lain. Percayalah akan kemampuan yang ada pada diri anda! Dan teruslah berpikir bahwa anda PASTI bisa ! maka anda pun pasti akan bisa🙂

Sekian testimonial dari saya. Semua yang saya tulis adalah FAKTA, semuanya adalah apa yang saya rasakan.

Elaine Nathania

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: